Senin, 20 Oktober 2014
Pagi ini gue mulai dengan makan potongan ayam yang gue sisakan semalam. Mungkin bagi orang, hal ini ngenes banget. Tapi di sisi lain, gue bersyukur bisa ngerasain keadaan kayak gini. Gue bisa tau gimana susahnya orang tua buat ngebiayain hidup.
Seandainya kuliah dan biaya hidup gue sekarang semuanya ditanggung orang tua, dan tiap gue mau apa-apa selalu dibeliin, mungkin gue gak akan sampai sini sekarang. Gue bakal males kuliah. Emang kembali lagi ke orangnya sih. Kalo gue mendingan susah-susah sekarang biar cepet ngerti, jadinya pas udah lulus nanti, gue gak kaget dengan keadaan kayak gini dan bisa belajar buat jadi lebih baik.
Gue beruntung masih kepikiran buat gak ngerepotin orang tua. Makanya, gue nikmatin hidup sebagai anak kost, sambil terus nyari kerja serabutan. Ternyata, asalkan kamu punya kemampuan dan kemauan, nyari kerja di Jakarta itu gak sulit. Yang paling penting, terus mencoba, dan jangan lupa, ikutin intuisi, #tsahh. Dan yang sedang gue rasakan sekarang adalah, mencoba move on dari kehidupan yang sering gue keluhkan, ke kehidupan yang gak ingin gue keluhkan, dengan berusaha dapetin itu.
Begitu indah ketika melihat seseorang berusaha, dan ia berhasil berkat intuisinya. -Jonathan Ivy
Menjadi dewasa itu emang rumit. Kalo waktu kecil kita tau bahwa jadi dewasa terlalu banyak yang dipertanggungjawabkan, terlalu banyak yang ditanggung di pundak, mungkin harapan kita waktu kecil bukanlah “aku pengin cepet gede”, tapi “aku pengin kecil terus”.
Belum lagi urusan hati, jadi dewasa berarti siap melakukan hal yang baik meski gak disukai dibandingkan melakukan hal yang disukai meski gak baik buat orang lain, dan diri sendiri tentunya.

Gue masih inget waktu kecil gue dihantui sama rasa sakit di lutut karena jatuh, bukan rasa sakit di hati karena ditinggal pergi. Waktu kecil tiap Minggu pagi gue lebih susah disuruh beranjak dari depan TV dibanding beranjak dari satu hati yang sudah gak menginginkan lagi. Waktu kecil gue lebih suka ngejailin dan bikin nangis anak perempuan yang gue suka dibanding harus ngegombal cuma buat liat dia senyum. Dan yang terpenting, setelah menangis, walau kita musuhan, tapi tetep gak tahan buat gak saling
bicaraejek.
Tapi ya memang begitulah hidup. Kita harus move on. Ya meski memang gak semudah kedengerannya, minimal kita berusaha dulu. Banyak hal yang harus kita move-on-in dalam hidup. Move on dari masa kecil adalah satu contoh yang bisa gue kasih. Masak udah segitu banyaknya move on yang pernah dijalanin, move on dari dia aja gak bisa? Masak LDR aja kuat tapi move on-nya nggak?
Ini mungkin saatnya kamu untuk move on. Seperti yang kamu lakukan pada saat move on-move on yang terdahulu. Salah satu move on favorit gue adalah ketika dari keinginan egois untuk memendam sayang sendiri, move on ke membagi rasa itu kepada orang yang disayang dengan cara mengungkapkannya.
Kenapa harus berani? Karena cepat atau lambat, kenyataan akan menampar kamu untuk jadi berani.
Guru terbaik buat move on itu bernama kenyataan.

Harusnya Kamu Sudah Terbiasa Move On

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Selasa, 22 Juli 2014
Malam kemarin ketika gue sedang duduk duduk syahdu di sebuah kedai kopi langganan gue menikmati tiap seduhan kopi yang setia menemani.
Saat gue lagi ngecek-ngecek email yang masuk di YahooMessenger gue, ada yang nanya ke gue:
“Kak, coba dong diskripsikan tentang MANTAN ? Dan boleh gak kak kalo kita berteman dengan MANTAN ?
Iya. Yang nama nya mantan pasti berhubungan dengan masa lalu dan kenangan.
Mantan kekasih merupakan bagian dari masa lalu kita, dia dulu menemani kita dan ikut mewarnai hari-hari kita. Banyak hal pastinya yang udah kita lalui bersama dia, Suka duka kita bersama dia banyak. Maka dari itu, banyak hal yang tidak dapat kita lupakan.

Berteman dengan mantan, juga masih dianggap tabu bagi remaja era instan sekarang.
Gengsi yang ada, jangan memungkiri kata hati untuk ingin berteman dengan mantan.
Sebenarnya sah-sah saja mau beteman dengan mantan, daripada harus saling diam saat bertemu, lebih baik saling menyapa biarpun sudah tidak ada status pacaran lagi.
Toh dengan menyapa, itu dapat menambah tali silaturahmi kan ? Dalam ajaran agama gue sih ada suatu ayat yang bilang “jangan pernah memutus tali Silaturahmi”

Entah mengapa, gue memiliki satu prinsip, Dimana, di dalam prinsip gue banyak teman yang menentang keras prinsip gue. Entahlah gue tak memahami paham mereka yang menentang prinsip gue ini.

Prinsip untuk kembali kepada mantan.
“Kembali kepada mantan, itu sama saja kita mengulang kesalahan yang sama di masa lalu.”
Buat gue, orang yang mau mengulang kesalahan di masa lalu merupakan orang yang waktunya dibuang dengan SANGAT sia-sia. Eits masalalu dengan mantan enggak melulu kisah yang sedih sedih juga sih ada kisah yang bahagia-bahagianya juga sih di sampingnya. kisah pahit pasti berjalanan beriringan dengan kisah manisnyajuga sih.

Apa yang bisa kamu cari dari kesalahan yang sama? Pastinya Cuma ketemu rasa sakit yang sama.
Nah, sama-sama sakit hati. Buat gue mengulang? Ga ada guna nya mengulang.
 
Ada juga yang berprinsip kembali ke mantan, dan saling berjanji, takkan mengulang kejadian saat dulu. Yakin ga akan mengulang? Pikir-pikir lagi sebelum berjanji buat balikan deh. Walaupun semua berhak memiliki kesempatan kedua sih.
Kalo mantan ada yang ngajak balikan dengan tempo waktu sebentar sejak putus, itu berarti dia masih sayang atau dia benar-benar ingin mengulang hari-hari bersama denganmu lagi.
Tapi, kalo dia ngajak buat balikan lagi dalam tenggang waktu cukup lama sejak tanggal yang secara resmi sudah putus. Fix, dia ngerasa kesepian tanpa kamu, atau dia hanya ingin status pacaran, CUMA status nya saja, bukan dengan hubungan nya, atau bisa jadi dia takut di bully jomblo oleh teman-teman nya, makanya dia minta buat balikan.

Pemikiran GUE tentang balikan itu simple banget sih, ibaratnya kaya kita memungut sampah yang udah kita buang. Jijik kan? Nah, se singkat itu pemikiran gue terhadap mantan.

Mungkin ada dari kalian yang lebih seneng kembali ke mantan. Ya itu semua kembali ke pemikiran kalian masing-masing. Dengan balikan, itu juga bisa menyebabkan luka lama yang udah terkubur muncul lagi. Gak ingin mengulanginya kan?

Gitu aja sih pembicaraan tentang mantan malam ini, bukan maksud hati untu menyindir mantan siapa pun dan mantan mana pun. Seenggaknya, gue masih membuka hati untuk berteman, bukan berarti dari pertemanan itu muncul rasa untuk pacaran (lagi) sih *tiba tiba ada Raisa lagi nyanyi ‘ Terjebak Nostalgia’*

“Menjelek- jelekan MANTAN sama saja menjelek- jelekan Masa Lalu kita. Karena biar bagaimanapun MANTAN adalah cerminan Masa Lalukita.”

Mantan !!

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Sabtu, 12 Juli 2014

Dari semua topik pembuka obrolan ke cewek yang gue temui di mall, warkop, atau tempat nongkrong yang biasa gue kunjungi, topik favorit gue yang keempat adalah “Lu lebih suka cowok bertipe bad boy atau nice guy?”
 
Setelah ditanya seperti itu, hampir 90% dari para wanita menarik itu menjawab lebih suka BAD BOY!
“kenapa tuh emangnya suka sama yang tipe bad boy?” adalah lanjutan dari obrolan untuk merespon jawaban para cewek yang gue temui tadi. Jawabannya macam-macam, kalau ditulis di sini akan panjang. Bisa sih diuraikan satu persatu, tapi gue males. Jadi berkat rasa males, jawaban dari para kaum hawa yang berjibun itu bakal gue ringkas sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelasnya: BAD BOY  ITU ASIK!
(Baca: Lah, nyet, BAD BOY  kan bajingan?)
Iya, jadi begini.. anak monyet, bad boy emang bajingan, tapi... tapi, perilaku para pria bajingan dan kurang ajar itu menegaskan simbol kegilaan, kesempurnaan, kebebasan, kemegahan, “kedewasaan”, dan “kemapanan” yang sangat membuat para wanita penasaran. Hal-hal itu membangkitkan sensasi yang jarang banget bisa ditemui oleh pria yang sering berperilaku sopan, kalem, atau baik.
Pakar asmara dan masternya cinta-cintaan ala muda-mudi masa kini si Lex, pernah bilang, bidang studi psikologi dapat menganalisa mengenai pria brengsek nan bajingan ini dalam hal romansa pada kombinasi Big Five berikut ini: high extraversion (penuh energi, ekspresif di hadapan orang lain), low neuroticism (jarang mengalami emosi yang tidak menyenangkan), low conscientiousness (santai, berantakan, tidak disiplin), low agreeableness (mementingkan diri sendiri, cenderung bersaing ketimbang kerjasama), high openness to experience (suka tantangan, cepat bosan, pecandu tantangan baru). Dan P.K Jonason dari New Mexico University menemukan bahwa James Bond adalah figur yang paling tepat untuk menggambarkan seluruh sifat di atas.
Ada yang pernah liat filmnya James Bond pas adegan nelfon cewek sekedar cuma nanya “Kamuh dah mam lum?”

 "Apah? Kamu lum mam? Mam dong, biar nggak atit nanti."
Oke, nggak usah deh ya seberat itu penjelasannya. Kalau menurut kacamata para wanita yang gue ajak ngobrol, bad boy lebih menarik karena mereka itu ekspresif, nggak menye-menye (ini gue nggak tau arti pastinya, tapi... ya gitu lah), berani untuk nggak baik, Dan.. sulit di tebak adalah sifat bad boy yang di sukai oleh para wanita tadi. Itu membuat mereka terlihat lebih fun dibanding para nice guy yang pernah mereka temui.
Menurut gue, bad boy sendiri terdiri dari 3 jenis: pertama adalah mereka yang sudah menjadi bad boy secara natural (re: Dari sononya), kedua adalah mereka yang menjadi bad boy karena difasilitasi lengkap sejak kecil (tajir mampus. Yang orang tuanya kalo ngupil, upilnya jadi emas batangan), yang ketiga adalah mereka yang menjadi bad boy karena pengalaman pahit. Contoh nomer tiga adalah kasus yang sangat teramat menarik.
Orang yang menjadi bad boy karena pengalaman biasanya sudah pernah mengalami pengalaman yang menghasilkan air mata berdarah di dalam hubungan romansanya. Biasanya mereka dulunya adalah seorang nice guy yang disia-siakan oleh gebetannya. Disia-siakan karena dahulu mereka selalu ada ketika gebetannya butuh bahu saat sedang jatuh terpuruk dikarenakan lelaki yang disukainya kerap menyakitinya. Lalu dia  datang dengan memberi 1001 kata motivasi yang menghibur setelah gebetannya curhat dengan sejuta keluhan atas pria brengsek yang disukainya. Dengan usaha yang sangat maksimal, mereka membuat gebetannya yang sedang sedih menjadi tertawa. Tujuannya hanya satu: agar si gebetan mau melupakan pria brengsek yang disukainya dan melihat dia yang sudah bersusah payah menjadi yang terbaik buatnya dengan cara menunjukkan kebaikan yang pria brengsek itu tidak punya. Tetapi hasilnya malah terbalik menjadi 180 derajat, si gebetan malah makin nempel kepada si pria brengsek dan si nice guy itu cuma mendapat gelar teman baik di hati gebetannya dan nggak lebih dari itu. Rasa sakit yang ekstrim membuatnya dihadapkan pada dua pemikiran: 1. Gue harus lebih baik lagi? Atau.. 2. Gue nggak bisa begini terus? 
Dan para bad boy yang menjadi bad boy karena pengalaman adalah mereka yang belajar setelah menempuh sekian beratnya bagi kenyataannya untuk pindah jalur ke jalur nomer dua. Tidak puas menjadi raja di zona teman sang wanita pujaan, membuatnya mengambil langkah yang sangat ekstrim. Tentunya kalian pasti tau kalo kisah di atas adalah sebagian curhan hati yang terdalam. Hahaha.
Memang, susah rasanya untuk tidak bersikap layaknya ksatria putih berkuda tetapi hanya menjadi  friendzone ke pada wanita yang kita suka. Tapi, hei! Wanita hanya akan tambah suka bila diperlakukan baik oleh pria yang disukainya. Pernah disukai wanita yang tidak lu sukai sama sekali? Ya, mereka jadi tambah suka karena lu memperlakukan mereka seperti biasa atau mungkin layaknya bad boy, dan lu menjadi nice guy ketika berhadapan dengan wanita yang lu suka. Terbayang? 
Jangan sembarang menunjukkan minat lu ke tiap wanita yang lu suka, berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang wanita yang disuka meminta hal di luar akal, mampu hidup terpisah darinya, tidak harus mengikutinya ke manapun dia ingin pergi, dan berbagai hal lainnya.
Wanita tidak ingin pria yang hanya unggul dalam kebaikannya, apalagi hanya memiliki hal itu saja (re: kebaikan). Mereka ingin pria yang lengkap dengan keunggulan-keunggulan lainnya. Atau setidaknya pria yang mampu menunjukkan bahwa dia bisa lebih dari sekedar berbuat baik, sopan, dan menghargai wanita saja.
Jadi... gimana? Hahaha. 
Oh iya, gue belum menulis jawaban mereka kenapa tidak memilih nice guy. Karena nice guy itu mudah terbaca, membosankan, dan sifat baiknya yang sering diumbar sangat sayang untuk tidak menjadi sekedar teman. Jarang sekali ada atau bahkan tidak ada kejutan yang didapat.
Tentu para nice guy di luar sana memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki para bad boy. Tetapi  untuk menarik lawan jenis, sifat ini tidak begitu membantu. Lalu bagaimana? "Lu perlu berlatih mengekspresikan kombinasi Big Five di atas tanpa perlu menjadi bad boy yang bajingan, disfungsional, kekanak-kanakan, merusak dan menyakiti setiap wanita yang tertarik sama lu. Lalu kalo lu sudah siap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, lu harus bersedia mengurangi sedikit kesempurnaan lu dan menunjukkan sisi lemah. Karena fungsinya untuk diisi oleh sang kekasih biar saling melengkapi. Ijinkan dia berakar dan bertumbuh di dalam diri lu agar ia gak mudah terpikat oleh gelora pria-pria lain yang senantiasa menggodanya" kata si Lex sih gitu.
Kalo lu setuju dengan tulisan di atas, gue harap, lu berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneruskan strategi jadul yang lu lakukan selama bertahun-tahun ini sehingga membiarkan para wanita di luar sana menjadi bosan dan terpaksa karena tidak punya pilihan lain jatuh ke pelukan pria brengsek atau bahasa kasarnya pria bajingan.
Hidup adalah game, romansa adalah bagian darinya, dan seperti game pada umumnya, game romansa mempunyai strategi dan peraturan, jalani dengan benar dan lu bakal menangin game-nya!

Nice Guy or Bad Boy

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Senin, 23 Juni 2014




Heyho! Apa kabar? Masih nunggu dia ngehubungin duluan padahal kamu yang kangen? Mau sampe kapan?… Apa? Oooh, kamu bukan siapa-siapanya dia. Pantes.
Anyway, kali ini gue pengen nulis tentang kegelisahan banyak orang nih. Mungkin termasuk kamu. Iya, tentang move on.
Move on kalo dibayangkan bisa semudah terbang, kalo dilakukan bisa semudah berjalan… ketika lumpuh.
Banyak banget orang yang gak bisa move on, ada juga yang gak mau move on, bahkan ada yang gak bisa dan gak mau move on. Yang baru-baru ini rame juga sekarang sering ada yang gak move on, padahal memiliki aja gak pernah. Aneh, kan?
Dari pernyataan gue tadi di atas, bisa ditarik kalo move on itu bukan cuma masalah bisa, atau mau. Tapi harus mau, dan harus bisa. Kalo salah satu aja nggak ada, bakalan sulit.
Setelah melakukan pengamatan pada pengalaman-pengalaman gue dan pengalaman-pengalaman orang lain, gue rasa ada beberapa faktor kenapa orang susah move on. Cekidot!
Sebenernya alasan “gak mau” dan “gak bisa” itu kurang masuk akal menurut gue, karena itu bukan alasan yang sesungguhnya. Selalu ada alasan-alasan lain di balik itu semua.
Ketemu Tiap Hari
Gimana bisa kamu move on dari orang yang tiap hari ketemu? Masih satu lingkungan? Pasti rasanya nyesek banget kamu putus dari orang itu, tapi liat dia setiap hari, entah karena satu kelas, satu organisasi, atau satu tongkrongan. Pokoknya nyesek deh.
Ini juga sering dijadiin ‘excuse’ buat gak move on. “Ah, ketemu tiap hari. Jadi, buat apa move on?”
Kadang herannya lagi, pas dia udah bisa move on duluan dengan punya pacar lagi, itu malah bikin kamu tambah gak bisa move on. Aneh.
Teman-Teman yang juga Temannya Dia
“Eh, lo udah putus sama dia?”
“Si [nama mantan] ke mana? Kok kalian gak pernah bareng lagi?”
Kalimat-kalimat kayak di atas dari temen-temen tuh yang bikin susah move on.
“Kok bisa? Kalian kan serasi banget?”
Apalagi kalo ditambah kalimat itu setelah tau kamu udah putus sama dia.
Penasaran
Masih ada yang belum terselesaikan. Sesederhana itu. Makanya ada orang yang gak pernah milikin dia aja susah move on dari dia, ya karena penasaran itu. Padahal kalo udah pernah milikin, mungkin malah jadi gampang move on.
Entah apa yang belum terselesaikan, intinya masih belum selesai. Sayangnya, ada yang menyalahgunakan rasa masih sayang orang lain untuk membalas dendam, misalnya dengan pura-pura gak bisa move on buat balikan terus bales semua perlakuan dia.
Faktor Eksternal yang Harusnya Gak Jadi Penghalang
Biar jelas, langsung gue beri contoh aja: gak dapet restu orang tua, beda agama, atau keduanya.
Sudah Terlalu Jauh, Sehingga Semuanya Terlalu Berharga
Sulit rasanya merelakan orang yang sudah terlalu banyak memberi kenangan, terlepas itu indah atau pahit.
Ini alasan yang paling sering dijadiin ‘pemakluman’ untuk orang buat gak move on.

Kalo kamu, gak bisa move on karena apa? Kayaknya yang gak bisa move on padahal memiliki aja gak pernah nih.
Yang mana pun penyebab kamu nggak move on, keputusannya ada di kamu sendiri, selama gak bikin menyesal. Karena ada loh orang yang menikmati ke-tidak-move-on-annya. So, tetap semangat!
Gue juga pernah bahas tentang move on di sini sebelumnya.

Kenapa Nggak Bisa Move On?

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Kamis, 12 Juni 2014
Malam ini Semarang hujan, gue sedang berada di sebuah Café Coffee, perpaduan yang pas sekali. 



Aku adalah segelas kopi anggap saja begitu

dan kau itu yah..hujan aku menyebutmu hujan

”..Sekalipun aku hanya segelas kopi, Aku takkan pernah habis
hingga engkau mereda, dalam gelas ini aku akan menunggu dan bertahan..”


kata kopi kepada hujan


                                                        …………..

" Silahkan saja, Aku tidak melarangmu..mungkin kamu takkan pernah habis,
tapi pelan-pelan kamu akan menjadi dingin, bahkan terlalu dingin, bersama waktu seperti aku..”


Jawab hujan kepada kopi

Sebuah dialog antara Kopi & Hujan.


Jujur aja, gue sering banget ngehabisin waktu di café sendirian, bukan.. Gue bukan orang yang selalu suka kesendirian, gue tetep suka kebersamaan. menghabiskan secangkir Coffee sendirian, dengan ditemani sebuah laptop dan tentunya WiFi, gue ngerasa gue nemuin dunia gue. Dan, jika gue ngajak seseorang, feel itu semacam hilang.


Entah juga kalo ditemani kekasih. Sayangnya, hal itu belum pernah terjadi dalam hidup gue. Hiks moment.

Hmm.

Sebenarnya, ketika gue menghabiskan waktu di café semaleman, terkadang juga mood gue sangat berantakan hari itu, dan itu terjadi pada hari ini.

Entah mengapa sejak gue masuk SMA, gue menjadi seorang yang moody. Yaps, orang yang mood-nya bisa berubah kapanpun. Menurut sebuah artikel yang gue baca, penyebab moody itu banyak, ada yang karena genetik atau keturunan, pengaruh lingkungan ada juga karena pergaulan, tapi menurut gue pribadi, moody gue ini terjadi karena pengaruh lingkungan. Padahal, waktu SMP gue sama sekali gak pernah ngerasain hal ini. I get bored with everything, I need a new worldEntahlah.


Sudahlah lupakan semua itu.

Btw, gue mau curhat nih. Hustt.. harap tenang. Curhatan seorang jomblo segera dimulai. 


Jadi, setelah gue lulus dari SMA gue bingung mau jadi apa?! Cita-cita gue sih, pengin banget bisa keliling dunia, tapi nyokap pengin anaknya jadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Lah, gaji seorang PNS itu berapa sih? Mentok juga buat pergi ke Bali, itupun juga kalo ada piknik kantor. Sangat bertolak belakang. Bagi gue PNS itu cuma nyari aman, gak ada tantangan, sangat monoton. Ya, gue bisa menyimpulkan semua itu karena kedua orang tua gue seorang PNS. Tapi, tak apalah, ikuti dulu apa kata orang tua, mereka yang udah ngerasain asem-manis-nya  idup, mereka tau mana yang baik mana yang buruk buat anaknya. Toh, PNS juga pekerjaan halal, bermanfaat bagi orang banyak dan gak ngerugiin orang. Bener memang kata kebanyakan orang “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima”.

Gue juga gak bisa ngebayangin, umur gue yang masih segini, dan wajah yang masih terlalu imut ini, memakai pakaian dinas. HAHAHA moment.

Gak kerasa, beberapa tahun lagi, bisa gue itung pake jumlah mantan gue. Gue udah ngerasain dunia kerja, dunia yang selama ini belum pernah gue pikirkan, dunia dimana gue dapet uang sendiri, ngatur uang itu sendiri, dapet uang ditabung buat masa lalu.. eh.. masa depan. Dunianya orang dewasa banget gitu.

Tapi…

NEMBAK CEWEK AJA GUE MASIH GAK BERANI!!!


By the way, gue dan dia udah masuk ke fase lirik-lirikan loh, entah gue yang ke-geer-an atau emang beneran, gue gak tau. Intinya, udah di fase ini aja gue udah seneng, padahal masih banyak fase yang dilaluin: PDKT -> Jalan -> Nembak. Masih jauh. Ya kalo, gak ada batu sandungan. Ya kalo, dia udah deket sama orang lain. Ya kalo, dia juga suka sama gue. Ya kalo, dia keburu udah ada yang punya. Hidup ini serba Ya kalo.

Ibarat angin yang tidak dapat dilihat tapi dapat gue rasakan sama halnya ketika gue memendam perasaan sendiri tidak kamu ketahui. Memendam hanya akan membuat gue, merasakan sendiri, sendirian tanpa mau membaginya. Mungkin jika raga gue bisa berbicara, dia bakal ngomong “Lepas.. Lepas gue dari hidup Lo, gue gak mau berada di satu raga bersama seorang pengecut”.

Seperti biasa, ketika gue sedang resah dan tak tau mau ngomong sama siapa, gue coba mengobrolkannya dengan si Tata, temen kecil gue.

“Ta, gue udah stuck nih, gue bingung apa yang harus gue lakuin, gue gak bisa bertindak apa-apa, apa yang harus gue lakuin biar dia ngerti kalo gue suka dia, Ta?”

“Yang memendam rasa suka namun ga bertindak apa-apa. Cuma bisa lihat dari jauh, udah senang melihatnya bercanda, ketawa, senyum.. tapi pengen ga sih senyumnya itu karena lo? gue yakin lo pasti akan lebih bahagia! makanya berani dong. pedekate ga harus bbm-in, minta nomer hape kok dan ngobrol setiap hari kok. justru jangan terlalu agresif. karena ga semua orang suka itu. mulai dari   perhatian kecil, nanya hal yang ga penting. biasanya sih yang agak agak misterius gitu, yang bikin penasaran, lebih gimana gitu... :3 siapa tau si dia akhirnya tertarik juga ama lo”.

Jawab Tata.

"Tata emang orang paling ngerti," Batin gue. Sambil tersenyum di depan layar laptop.



Akhirnya, gue membulatkan tekad buat ngajak dia jalan. Tekat itu udah sangat bulat. Omongan Tata udah nge-doktrin gue.


Karena doi udah ngasih nomer hpnya, gue berencana sms dia buat ngajak jalan.

"Hei, malem ini ada acara nggak? mau gak tak ajakin maen?" tanya gue. Send.

Dag Dig Dug. 30 menit kemudian ada sms masuk.

"Maaf yah. aku lagi sakit. besok aku ada acara ke sekolah. Lagi istirahat gitu," jawab dia, ngebuat gue tersenyum. Dia gak jaim. Walaupun jaim sih..

Gue gak mau maksain, karena sesuatu yang dipaksain itu endingnya juga bakal terpaksa. Entah terpaksa bosen, atau terpaksa di tinggal salah satu duluan, "Yaudah, get well really son ya!" kata gue, memberi semangat.

Blablabla ngobrol ngalor ngidul dari sini gue tahu, kalo dia lumayan suka kopi, sama dengan gue yang penggemar kopi. Kata dia sih, kopi bikin pikiranya rada fres pas doi lagi semrawut. Gue jawab aja itu cuma mitos. Tapi, yaudah, cinta ini gak bisa diukur dengan segelas kopi. Tsah.


Di dalam obrolan itu, kita merencanakan sebuah pertemuan. Pertemuan berdua saja. Dia ternyata orang yang sibuk, sama kayak gue sih.. Sok sibuk.  Jadi, perlu rencana panjang untuk sebuah pertemuan jejaka muda nan tampan ini, dengan seorang premaisuri.

Lebay? Biarin. Namanya juga jatuh cinta.




Gue masih ragu.


Di satu sisi, gue sangat bahagia merasakan sebuah cinta yang baru, tapi di sisi lain, ada keraguan baru, dalam hidup gue. Entah, ini hanya sebuah prasangka gue saja, atau entah...

So, gue kemaren stalking lagi, kali ini foto dia. Apa yang gue dapat? Dia habis upload foto seseorang yang pernah jadi sesuatu yang spesial di hidup dia #ifyouknowwhatimean. Dan di coment dalam foto itu banyak yang bilang mereka serasi. A thing which is not good I read.

Salah gak, bagi gue untuk curiga? Salah gak, kalo gue menunda mengungkapkan segalanya? Gue hanya Pria yang tak mau patah hati (lagi) karena cinta. Gue gak munafik akan hal itu. Gue gak takut dikatain lemah. Jika melupakan cinta itu semudah menghapus tulisan di papan tulis. Gue gak akan jomblo selama ini.


Dari hati gue yang paling dalam, gue gak percaya kalo dia bakal jadiin gue pelampiasannya, dia juga gak bakal jadiin gue cinta sesaatnya, atau mungkin gue hanya suhu pemanas untuk orang itu. Seperti apa yang diucapkan orang-orang.

Itu bukan ‘dia’ yang selama ini gue amati, hampir 2 tahun.


Keraguan itu memuncak malam ini. Gue hanya manusia dengan ego yang tinggi, yang tak mau di pilih. Gue harus prioritas.
Gue juga gak mau berharap, sama orang yang masih berharap.

“Berharap sama orang yang masih berharap? Sia-sia”


Gue juga gak mau punya hubungan dengan orang yang masih hidup dalam angan-angan kenangan, masa lalu. Sebuah hubungan pada dasarnya diciptakan untuk sebuah masa depan. Nah, jika salah satunya masih hidup dalam masa lalu? Kalo kata orang Jawa sih, bakal Bablas. Masa lalu ada bukan untuk merusak rencana masa depanmu.


Aku lelaki bukan tuk dipilih. I'm not an option, I'm a priority.



I hope you can read this...

Aku Bukan Pilihan Tapi Prioritas

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Minggu, 01 Juni 2014
beach-boy-dress-girl-hands-hold-Favim.com-55110
Aku seorang perencana. Itu tugas dan naluriku. Kamu, navigator andal paling manis yang siaga menyadarkan bahwa semesta tak melulu sesuai dugaan.
Aku menganggap diri ‘the man with the plan’, terlalu pemikir. Tapi kamu selalu mengingatkanku semuanya lebih indah mengalir.
Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.
Aku terlalu takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini adalah yang dianugerahkan.
Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan.
Kamu bilang, waktu paling berharga adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga, karena masih bersamaku sampai kini.
Katamu, masa depan tak pernah pasti. Tapi yang pasti aku hanya ingin memastikanmu menjadi masa depanku. Itu pasti.
Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu berarti juga mengingatkan. Tetaplah saling menggenggam tangan. Dan sekali lagi, mari kita terkejut berdua, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya… sampai kita renta.
107027668

Bersama Sampai Kita Renta

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Sabtu, 10 Mei 2014

Sebelum bahas jatuh cinta, mari kita bahas tahap-tahap nya satu demi satu dulu.
Oke, Gue mulai! *kretekin jari* *nyetel lagunya Bruno Mars “When I Was Your Man”* yah kok malah sendu jadinya.

Sudah Siap Jatuh Cinta?

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Selasa, 06 Mei 2014
Gif: Tumblr
Dari sekian banyak elemen yang ada, menurut gue elemen yang paling kuat adalah waktu. Eh tapi waktu itu elemen atau bukan ya? Ya pokoknya waktu lah yang menurut gue sangat digdaya. Saking saktinya, waktu jadi sesuatu yang sangat, atau bahkan, paling berharga.
Buktinya, setau gue cuma waktu yang di-highlight dalam kitab suci. “Demi masa (waktu).” Itu semakin meyakinkan gue bahwa waktu memanglah bernilai.

Makanya, kalau gue dikasih kesempatan buat milih kekuatan super yang bisa gue dapatkan, gue pasti akan memilih buat bisa mengendalikan waktu. Semua kekuatan, mau itu kuat kayak Superman, banyak duit kayak Iron Man, atau sekadar punya selera humor dan kehidupan cinta yang ngenes kayak Spider-Man, semuanya nggak berarti kalau waktu dihentikan. Mereka semua tunduk kepada waktu.
Yeah, I am a fan of Hiro Nakamura.
Foto: spesial

Dari sekian masa yang sudah gue habiskan selama gue hidup di dunia ini, menghirup napas di sini, dan secara rakus memanfaatkan intisari bumi ini, gue belajar beberapa hal yang semoga dengan benar gue pahami dari waktu.
Gue percaya waktu itu menyembuhkan
Ditinggalkan dia yang berharga. Dicampakkan dia yang dicinta. Di-tidak-acuh-kan mereka yang sudah kamu beri semua. Hal-hal di atas cuma berakhir menimbulkan luka.
Mengejutkannya, semua itu bisa sembuh. Memang sih, banyak alasan buat nyembuhin luka-luka kayak gitu, misalnya dengan alasan jatuh cinta lagi, dengan alasan sudah merelakan, atau bahkan sekadar karena sudah lupa. Tapi dari ketiga hal itu, ada waktu yang jadi elemen penting.
Kita nggak akan pernah tau akan dapet kesempatan untuk jatuh cinta lagi apa nggak. Kita nggak pernah menduga akan bisa merelakan. Kita nggak pernah bisa menerka apa bisa melupakan. Semuanya nggak akan kita tau kalau nggak dikasih kesempatan.
Kesempatan itu butuh waktu.
Kalau nggak menyembuhkan, minimal waktu itu menyadarkan
Foto: Tumblr
Foto: Tumblr
Butuh waktu untuk akhirnya sadar bahwa seseorang begitu berharga. Biasanya setelah mereka benar-benar pergi. Kadang itu butuh waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Tapi karena waktu itulah, dia membiarkan bukti-bukti sedikit demi sedikit bermunculan. Mencuat ke permukaan. Bukti bahwa yang kamu rasakan itu sayang beneran atau cuma penasaran. Bukti bahwa sebenarnya yang kamu butuhkan adalah orang itu. Bukti bahwa sesungguhnya kamu bisa merelakan. Bukti bahwa sejatinya cinta itu harus memiliki, atau direlakan sama sekali.

Butuh waktu untuk tau yang dirasakan dan pernah diucapkan dengan manis itu… benar-benar cinta, atau cuma dusta.
Dan berapa waktu yang dibutuhkan? Nggak ada yang bisa mengira. Cuma waktu yang tau.
Waktu adalah penguji yang teruji
Semua ucapan, semua tindakan, semua harapan, semua angan-angan, bahkan sepertinya semua hal di dunia ini harus melewati ujian. Dan waktu seringkali menyajikan ujian yang nggak bisa ditahan.
Nggak ada yang lebih meyakinkan dari sesuatu/seseorang yang sudah lulus diuji oleh waktu. Semua omong kosong berbalut manis yang keluar semasa kasmaran, semuanya cuma bisa dibuktikan oleh waktu melewati ujian.
Sayangnya, kita sebagai manusia sering terlalu nggak sabaran. Menyimpulkan dan mengambil keputusan padahal yang dibutuhkan cuma sabar dan kebijaksanaan.
Akhir dari meremehkan waktu –yang tak bisa ditarik kembali– adalah penyesalan.
Lagi-lagi, dalam hal penyesalan sekalipun, yang paling berperan adalah sang waktu.
Biarkan apa pun yang mendatangi kamu diuji oleh waktu sebelum memutuskan itulah yang tepat, atau cuma selewat.

Time

Posted by Jefri Anugrah Yonda

Hero

Jam ?

Copyright © 2012 Yonda. Diberdayakan oleh Blogger.

Who is Yonda

Recent Posts

Copyright © 2012 Yonda Story - YONDA - Powered by Blogger - Designed by JD