Sabtu, 28 Maret 2015
Via Tumblr

Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan kita berjauhan. Tetapi aku lebih tidak mengerti lagi mengapa dan bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita. Semua ini memiliki alasan.

Namun ketika aku berusaha mencari apa maksud dari ini semua, aku terhalang oleh jarak. Seperti para biksu dan guru pada setiap film kolosal, seperti Chinmi dari serial manga Kung Fu Boy yang berguru untuk membelah bulan di air, aku justru menjadikan jarak adalah guruku. Guru kehidupan, guru spiritual, guru seni.

Terkadang kita hanya harus berhenti melawan untuk menang.

Jarak Mengajari Kita Percaya
Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan selalu bertemu tapi tidak adanya rasa percaya.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan sering bertemu tapi selalu sibuk sendiri-sendiri.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan berdekatan tapi tak ada yang memprioritaskan satu sama lain.

Sesungguhnya jarak yang hitungannya kilometer bukanlah apa-apa jika cinta kamu dan dia itu forever.

Jarak Mengajari Kita Sabar
Via Tumblr

Hanya memiliki waktu yang singkat untuk bertemu, lalu mesti menunggu lama untuk bersua lagi. Kurang pelajaran sabar apa lagi?

Ketika ada percikan-percikan pertengkaran kecil, kita terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk bersabar. Tak apa, itu latihan. Dengan begitu, kesabaran akan melingkupi kita dan bisa lebih mengerti kesabaran.

Jarak Mengajari Kita Waktu

Dengan jarak, kita jadi semakin tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mesti ada banyak hal yang dikorbankan. Bukan hanya materi dan tenaga, tetapi juga waktu. Semuanya harus diatur sebelum waktu bertemu tiba. Saat-saat mengatur itulah, kedawasaan ditempa.
Via deviantart

Dengan Jarak, Kita Bisa Melihat Lebih Jelas

Coba dekatkan suatu objek sampai sedekat mungkin dengan mata, apakah kamu bisa melihat sesuatu?
Kita butuh jarak untuk bisa melihat.
Dengan jarak, kamu bisa melihat apakah seseorang benar-benar mencintai kamu atau tidak.
Kalimat itu sangat sederhana, namun pikirkanlah. Ada banyak makna di dalamnya.

Jarak Mengajari Kita Mengalahkan Musuh yang Lebih Nyata

Ego.

Menang atau kalahnya suatu hubungan, dapat dilihat dari apakah bisa meruntuhkan ego masing-masing.

Jarak Mengajari Kita Usaha Jauh Lebih Besar Dari Sekadar Bicara

Via Tumble

Jarak membedakan mana orang yang sekadar bicara, dan mana yang perbuatannya nyata.

Jarak Mengajari Kita Untuk Saling Menemukan

Via Tumblr

Via Tumblr 
 
Dan mengapa jarak begitu mengajari kita banyak hal. Semua ini pasti memiliki alasan. Aku yakin alasannya adalah, kita.

Seni dan Jarak

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Sabtu, 10 Januari 2015
Foto: weheartit


Hampir semua dari kita pasti pernah ngerasain rasanya lari-lari dari kamar menuju ruang TV karena acara favorit udah mau mulai, tapi pas udah sampe depan TV langsung terdiam, mengedarkan pandangan, kebingungan. Ternyata, sang remot pergi, entah ke mana.

Ada kalanya juga waktu tanggal tua menerpa, kita kehabisan daya, mau makan pun tak ada. Akhirnya ngorek-ngorek kantong celana, tak dinyana, tak sengaja menemukan seonggok dana. Lipatan uang yang nyelip habis dicuci dan terselip tanpa sengaja.

Menemukan kembali sesuatu yang hilang memang menyenangkan dan dirasa melegakan. Tapi kadang, hal itu nggak berlaku untuk gebetan. Terutama gebetan yang pernah meninggalkan. Dan kini sudah dalam status pacaran.


Sederhananya gini:

Kamu punya gebetan. Deket. Deket banget. Dekeeeetttt banget. Tiba-tiba ngilang. Taunya dia jadian sama yang lain. Anehnya dia masih sering hubungin dan deketin kamu padahal udah punya pacar.

Bingung nggak sih ketika ngalamin kejadian kayak gitu?

 “Kenapa dia masih perhatian sama gue padahal dia kan udah punya pacar?”

Pasti itu pertanyaan yang ada di benak kamu. Kan jadinya serba salah ya, mau nimpalin takut pacarnya marah. Nggak nimpalin, kan sayang, apalagi kalau kamunya masih sayang.

Setelah bertahun-tahun bertapa di bawah air terjun di Gurun Gobi dan berkat penelitian mendalam selama dua jam 10 menit, gue bisa menarik beberapa poin yang jadi alasan orang-orang laknat itu. Orang-orang yang udah punya pacar tapi masih aja perhatian sama orang lain.

Jadi, mantan gebetan kamu yang dulu pernah ninggalin buat jadian sama orang lain, kalau dia masih atau tiba-tiba balik lagi perhatian sama kamu kemungkinannya nggak jauh-jauh dari ini:

Emang Maruk

Kalau di bahasa Sunda, yang kayak gini disebutnya Darmaji, dahar lima ngaku hiji. Makannya lima, tapi ngakunya cuma satu. Punya gebetannya lima, tapi ngaku pacarannya satu. Jadi, orang yang kayak gini tuh nggak mau dapet kasih sayang cuma dari satu orang, nggak mau merhatiin cuma satu orang. Udah punya pacar, tapi masih merhatiin yang lain.

Youre-a-jerk-GIF-Barney-Stinson-Neil-Patrick-Harris

Penasaran

Alasan berikutnya adalah penasaran. Mungkin aja, ketika kamu deket sama dia, cuma sedikit yang dia rasakan dan dia tau. Karena nggak sabaran dan nggak mampu buat menyelami kamu lebih dalam, dia cari yang lain yang lebih mudah. Eeeh, taunya pas udah jadian sama yang baru, dia masih suka kepikiran kamu. Penasaran gitu gimana sih kamu sebenarnya, apalagi kalau pacarnya yang sekarang cenderung nggak lebih baik dari kamu.

Merasa Bersalah

Ini sering terjadi pada orang baik. Orang baik selain suka ditinggalin/diputusin karena alasan terlalu baik, ternyata suka digangguin karena alasan yang sama pula. Mantan gebetan yang tadinya ninggalin demi jadian sama orang lain malah balik lagi gara-gara tau bahwa kamu terlalu baik buat disakitin. Dia sadar kamu udah baik dan nerima dia banget, tapi dia malah nyakitin. Dia ngerasa bersalah dan akhirnya balik lagi, perhatiin kamu lagi. Egoisnya, dia nggak mau mutusin pacarnya.

Jadi balik laginya itu kesannya cuma mau ‘menghapus dosa’ biar kamu nggak merasa tersakiti banget.
Padahal sudah terlambat.
Menyesal

Bisa jadi ketika kalian deket, kamunya masih belum menemukan jati diri, atau ada sesuatu yang menahan kamu untuk berekspresi sehingga kamu jadi biasa aja, nggak ada aura yang keluar, bahkan cenderung membosankan. Alhasil jadilah kamu ditinggalkan. Taunya, pas abis ditinggalin, kamu malah jadi makin lepas dan bisa bebas berekspersi, imbasnya penampilan kamu jadi lebih menarik. Eh, si dia yang ninggalin akhirnya balik lagi. Nyesel gitu. Tapi nggak mau juga ninggalin pacarnya.

Ini sering terjadi banget nih buat kamu yang punya karya. Ketika kamu udah mulai dikenal melalui karya-karya kamu, ada aja mantan gebetan nyebelin yang balik lagi.

Nggak Mau Kehilangan Fans

Orang yang seperti ini biasanya orang yang sok kecakepan. Jadi, setiap ada yang suka sama dia, dia nganggapnya itu ngefans sama dia. Jadi orang yang suka sama dia semuanya dianggap fans.
Ada orang yang ketika disukai seseorang, menyuapi egonya dengan menganggap yang suka padanya itu sebagai fans.
Orang kayak gitu enaknya kalau balik lagi dan ngomong segala macam kebohongannya mending diginiin aja…

Gif: tumblr

Jadi, itu dia beberapa alasan kalau mantan gebetan yang dulu mencampakkan sekarang masih atau mendadak balik perhatian. Hati-hati, guys and girls!
Menurut kamu, ada lagi nggak alasan lainnya? Kamu pernah ngalamin yang mana? Sini sini curhat sama opa di kolom comments.
Sabtu, 13 Desember 2014
Kalau ditanya “hidup apa yang paling mudah?”, mungkin jawaban yang paling mendekati adalah hidup menjadi Nobita karena punya Doraemon, dan hidup di dunia Spongebob yang bahkan untuk bahagia cukup hanya dengan menempelkan rumput laut ke bibir.

giphy-3

Namun hidup ini bukanlah dunia Doraemon ataupun Bikini Bottom. Hidup ini nyata. Tapi tanpa kita sadari, atau mungkin sebenarnya udah sadar cuma nggak terlalu peduliin, bahwa ada satu tempat, lebih tepatnya satu fase kehidupan yang begitu surgawi. Begitu mudahnya kebahagiaan dirasakan pada fase itu.
Ya, fase itu adalah masa sekolah, khususnya, masa SMA.

Sumber: antah berantah

Buat anak-anak yang udah lulus, apalagi lulusnya udah lama banget, udah ngelewatin masa di mana ngelihat Facebook dan Path isinya postingan orang tentang pernikahan atau upload foto anaknya, masa SMA itu ngangenin banget. Kalau kita ingat-ingat lagi, masa SMA itu indah banget ya. Semuanya terasa lebih mudah.

Belajarnya
SMA beda banget sama kuliah. Waktu SMA, guru-guru yang ngejar-ngejar kita. Kalau kita nggak ikut ulangan atau ujian, ditanyain kenapa nggak ikut, terus dibujuk buat ikut susulan atau ujian pengganti. Di dunia kuliah, mahasiswa yang harus ngejar-ngejar dosen, karena mahasiswa yang butuh dosen. Dosen nggak mau ambil pusing. Kalau mahasiswa nggak datang, tinggal dikasih penilaian benar-benar sesuai kelakuan aja. Kalau SMA yang males masih di-naik-kelas-in, di kuliah, yang males ditinggalin.
Di kelas, guru yang nyamperin murid-muridnya dari kelas satu ke kelas lain. Muridnya cukup diem, nyiapin alat tulis. Bahkan udah segitu mudahnya pun, masih aja ada yang males. Kalau kuliah mahasiswa yang mesti pindah-pindah kelas ngikutin dosen itu ‘ngetem’-nya di ruangan yang mana.

giphy
Waktu SMA, di kelas bisa enak-enak banget mainan handphone pas guru lagi nerangin. Makanya, nggak heran banyak yang pake kerdus (kerudung dusta) ke sekolah cuma buat nyembunyiin earphone yang nyantol di kuping. Sebenernya pas kuliah juga bisa sih kayak gitu, tapi akibatnya mesti ditanggung sendiri. Pas SMA mah enak, nggak pernah merhatiin di kelas juga pas ujian sering dapet contekan. Lah kalau kuliah, ujian akhirnya sidang skripsi. Skripsinya bikin sendiri. Kalau nggak bener bikinnya, abis dibantai pas sidang.

Temennya
Indahnya masa SMA, nongkrongnya bisa sama yang begini. Cukup dengan modal menjadi anak cowok yang ‘lucu’ dan sedikit ‘involve’ di berbagai kegiatan si cewek, bisa jadi temen deketnya sampai punya akses sender-senderan pundak dan tentunya, foto bareng.

Instagram: hanikenisha

Udah kuliah mah boro-boro modusin cewek, yang ada ‘dimodusin’ mulu sama tugas. Nggak abis-abis.
Pas lulus-lulusan, bisa modus coret-coretan deket-deket dia, sampai modus nggak sengaja nyoret logo OSIS-nya.

Instagram: davianakbar

Waktu SMA juga, untuk nongkrong, khususnya buat yang anak cowok, rasanya nggak pernah sampe ngorogoh kocek sama sekali. Cukup dengan ngumpul di pinggir jalan setelah bel pulang sekolah, itu udah termasuk kategori nongkrong. Literally nongkrong. Jongkok di pinggir jalan, di depan warung. Beberapa ada yang ngerokok, beberapa lainnya ada yang cuma ikut-ikutan ngerokok. Kopinya nggak perlu yang seharga puluhan ribu sampe bikin puasa seminggu lalu harus difoto dan upload fotonya di Path dan Instagram, tapi cukup beli yang di warkop, segelas doang, diminum rame-rame.
Beda halnya dengan waktu SMA. Mungkin semester satu-dua masih bisa kayak gitu. Tapi semester berikutnya, nggak ada yang namanya murni nongkrong, tapi adanya nugas, nugas, dan nugas.
Janji pas mau lulus sekolah “Kalo udah lulus, kita harus tetap ngumpul ya…” seringnya hanyalah wacana belaka.
Makin akhir kuliahnya, atau pas udah lulus, makin susah lagi buat ngumpul. Nggak kelar-kelar. Pas semester susah ngumpul alasannya banyak tugas, semester akhir alasannya karena skripsi dan ada yang sambil kerja juga. Setelah lulus, janji-janji tetap ngumpul tinggallah wacana belaka. Udah lulus makin susah buat ngumpul, alasannya kerja terus, susah liburnya, kuliah bisa cabut tapi kerja nggak. Belum lagi kalau udah ada yang berkeluarga, makin susah. Ujung-ujungnya, sampe tua itu ngumpul nggak jadi-jadi.

Kekerenannya
Bagi anak SMA, keren itu sederhana. Buat yang cewek, cukup dengan pake sepatu putih kayak gini,
trend-anak-sma-6-jakarta-sepatu-putih-hm

pake rok dan baju yang kekecilan, pake tas anak SD atau tas tante-tante sekalian (pokoknya nggak boleh tas anak sekolah), udah jadi gaul. Jangan lupa rambut belah tengah.
Buat cowok, cukup dengan baju dikeluarin, celana yang nggak boleh gombrong, dan tentu saja bagi sebagian besar kalangan, harus ngerokok. Kayak itu udah berasa keren.
Yang pasti, anak keren waktu SMA jalannya harus bergerombol dan berendeng kayak di Fear Factor gitu.

giphy-2

Intinya, waktu SMA, keren itu mudah, tinggal melanggar peraturan. Kata sekolah harus pake baju yang longgar, pakelah baju yang ketat. Kata sekolah rambut harus pendek, gondronginlah. Kata sekolah di kantin harus bayar, ngutanglah.
Pas kuliah juga bisa sih kayak gitu. Tapi bedanya, masa kuliah semua perbuatan ditanggung pelakunya sendiri. Di beberapa kampus ada yang ngewajibin pake pakaian/seragam tertentu. Kalau nggak nurutin, ya nggak boleh masuk, bahkan bisa sampai dikasih surat peringatan, bahkan bisa juga di-DO gara-gara itu. Yang membedakan jelas: pemakluman. Nggak ada lagi pemakluman saat sudah bukan lagi anak SMA.

Cintanya
Masa SMA itu adalah masa yang mudah.

Motor nggak sengaja sebelahan di parkiran aja udah ngerasa jodoh.

Nggak sengaja baris deketan pas upacara aja ngerasa udah jadi soulmate.

Absen atas-bawah udah ngerasa kamu sama dia nggak akan terpisahkan.

Ditunjuk guru untuk jadi teman sekelompok aja udah ngerasa memang ditakdirkan bersama.

Diminta PIN BBM atau nomer HP sama dia padahal buat nanyain tugas aja udah kayak diajak ngedate.

Di-chat buat nanyain tugas aja ngerasanya udah kayak ditanya “Will you marry me?”

Nggak sengaja beli somay di abang-abang yang sama di kantin aja langsung berasa akan hidup bersama selamanya.

Pake baju yang sama pas di sekolah aja langsung ngerasa “Dialah the one in my life.”

Ya, memang. Masa SMA adalah masa paling mudah. Atau lebih tepatnya, masa paling lemah.
Waktu SMA, untuk dapet pacar, simple banget. Cukup ikut ekskul yang keren, bawa motor dari duit bokap, punya jokes yang berhasil bikin dia ketawa. Kalau udah gitu, modal teh botol sama bercanda aja udah bisa jadian. Yang penting sekota, kalau bisa sesekolah, kalau bisa lagi, sekelas. Karena jarang banget anak SMA yang sanggup LDR.
Instagram: daraprayoga

Beda banget sama kehidupan selepas SMA. Untuk dapet pacar, masuk UKM yang ngetren aja belum cukup, tapi harus berprestasi banget juga. Punya kendaraan, kalau motor doang, apalagi cuma motor bebek atau matic, kadang nggak dilirik sama sekali, kalah sama yang bawa mobil (lagi-lagi, itu punya bokap).

Untuk dapet pacar pada masa setelah SMA, harus punya kerjaan yang bagus, harus punya rencana masa depan, harus merhatiin keluarganya, asal-usulnya. Belum lagi berantem karena timpangnya kesibukan. Yang satu sibuk kerja, yang satunya lagi nganggur, sehingga salah satu menuntut waktu dan perhatian, namun yang satunya sedang nggak bisa diganggu. Belum lagi soal jarak. Belum lagi soal beda agama. Belum lagi soal restu.
Kadang, kita hanya ingin kembali ke masa di mana segala sesuatunya tidak serumit ini.
Waktu SMA, nggak butuh semua itu. Tinggal buat dia sering ketawa ketika sama kita, kencan kesekian tanya “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” terus dia jawab “Iya”, sering main ke tempat makan lalu selfie lalu update di socmed. Dalam seminggu, bisa ketemu lima hari. Senang-senang terus.
Ah, ini semua hanya untuk mengenang saja. Namun memang, kita nggak bisa senang-senang terus. Semakin dewasa, semakin banyak yang harus dipikirkan dengan matang, semakin harus bisa melihat ke depan. Karena kita nggak mau kalau hidup kita gini-gini aja.
Maka untuk kamu, beruntunglah ketika kamu, saat ini, sedang bersama seseorang yang punya rencana. Seseorang yang nggak terlalu “let it flow aja” lah, “gimana nanti aja deh”, atau “nikmatin aja udah”. Kita semua butuh kepastian, atau setidaknya, secercah harapan. Harapan yang berdasar, bukan mengawang-awang hanya bermodalkan referensi film dan FTV. Harapan yang dianalisis jalannya, di-breakdown langkah-langkah menuju ke sananya, dan diyakini serta diterapkan semua pembicaraannya.
Jaga baik-baik dia yang punya rencana. Perlakukan istimewa dia yang memberikan harapan yang berdasar. Buatlah nyaman dia yang memperlihatkan kepadamu suatu ‘jalan’.

 Yang badboy, yang bawa kendaraan macem-macem, yang punya kata-kata manis mungkin akan bikin klepek-klepek. Namun percayalah, semua itu akan kalah oleh dia yang berkomitmen, bikin nyaman, punya rencana, dan dia yang bekerja keras.
Karena harga diri laki-laki terletak pada kerja kerasnya.

Pergi demi kerja, pulang demi cinta.

Indahnya Masa Sekolah

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Rabu, 10 Desember 2014
tumblr_nali5tdOat1rxwlxqo1_500
Tidak ada lagu lain yang bisa menggambarkan apa yang aku rasakan di malam hujan selain lagu ini:


Ini malam kedua belas sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.
Januari boleh berlalu. Namun sebelum januari yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.
Satu hal paling aku benci dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke bumi. Bumiku yang tanpa kamu.
giphy
Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalku harus bergemeretak karena diri ini tak dapat menjangkaumu dalam dekap.
Jarak.
Jarak ada untuk ditempuh. Bukan untuk dikeluh karena jauh.
Aku selalu percaya semua yang indah tak pernah bisa didapat dengan mudah. Semua yang berarti, menuntut untuk korbankan diri. Kita, pergi ke arah yang berlawanan, bukan untuk menjunjung sebuah perpisahan. Kita hanya sedang memantaskan. Kita harus mencoba mengarungi belantara sendiri. Menghadapi masalah yang rumit dengan kemampuan diri.
Bersamamu, segalanya terasa lebih mudah. Pasti.
Namun aku selalu ingat apa yang hidup ajarkan, yang selalu ayah katakan,
“Kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau di waktu yang kita inginkan. Tuhan lebih tahu. Doamu bukan tidak dikabulkan, hanya saja digantikan dengan yang lebih indah, atau disimpan sampai waktu yang lebih indah.”
Aku selalu percaya waktu itu akan datang. Waktu di mana kita menghadapi kerasnya dunia bersama. Waktu di mana kita bisa menari di bawah hujan bukannya menunggu badai reda. Waktu di mana aku merasa baik-baik saja ketika genggam tanganmu ada.
Layaknya sebuah mutiara, aku harus menyelam lebih dalam untuk mendapatkan keindahannya. Maka aku mengerti. Selagi aku terus ditempa dunia, aku tetap harus menghadap ayahmu, mengajaknya bicara, mendekatinya. Karena apa? Aku harus sehebat, setenang, dan semengerti beliau dalam menghadapimu.
Karena jika aku tak sesayang ayahmu, aku tak layak untuk duduk berdua denganmu mengenakan tudung putih bersandingan, menjabat tangan beliau, mengucap nama kamu, mengambil alih tanggung jawabnya untuk membahagiakanmu.
Percayalah, aku sanggup.
Kita hanya perlu bersabar.
Ketahuilah satu hal. Jarak dan waktu antara kita besarnya tidak pernah melebihi rasa sayang yang ada.

Untuk Kamu Yang Terpisahkan Jarak Dariku

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Senin, 20 Oktober 2014
Pagi ini gue mulai dengan makan potongan ayam yang gue sisakan semalam. Mungkin bagi orang, hal ini ngenes banget. Tapi di sisi lain, gue bersyukur bisa ngerasain keadaan kayak gini. Gue bisa tau gimana susahnya orang tua buat ngebiayain hidup.
Seandainya kuliah dan biaya hidup gue sekarang semuanya ditanggung orang tua, dan tiap gue mau apa-apa selalu dibeliin, mungkin gue gak akan sampai sini sekarang. Gue bakal males kuliah. Emang kembali lagi ke orangnya sih. Kalo gue mendingan susah-susah sekarang biar cepet ngerti, jadinya pas udah lulus nanti, gue gak kaget dengan keadaan kayak gini dan bisa belajar buat jadi lebih baik.
Gue beruntung masih kepikiran buat gak ngerepotin orang tua. Makanya, gue nikmatin hidup sebagai anak kost, sambil terus nyari kerja serabutan. Ternyata, asalkan kamu punya kemampuan dan kemauan, nyari kerja itu gak sulit. Yang paling penting, terus mencoba, dan jangan lupa, ikutin intuisi, #tsahh. Dan yang sedang gue rasakan sekarang adalah, mencoba move on dari kehidupan yang sering gue keluhkan, ke kehidupan yang gak ingin gue keluhkan, dengan berusaha dapetin itu.
Begitu indah ketika melihat seseorang berusaha, dan ia berhasil berkat intuisinya. -Jonathan Ivy
Menjadi dewasa itu emang rumit. Kalo waktu kecil kita tau bahwa jadi dewasa terlalu banyak yang dipertanggungjawabkan, terlalu banyak yang ditanggung di pundak, mungkin harapan kita waktu kecil bukanlah “aku pengin cepet gede”, tapi “aku pengin kecil terus”.
Belum lagi urusan hati, jadi dewasa berarti siap melakukan hal yang baik meski gak disukai dibandingkan melakukan hal yang disukai meski gak baik buat orang lain, dan diri sendiri tentunya.

Gue masih inget waktu kecil gue dihantui sama rasa sakit di lutut karena jatuh, bukan rasa sakit di hati karena ditinggal pergi. Waktu kecil tiap Minggu pagi gue lebih susah disuruh beranjak dari depan TV dibanding beranjak dari satu hati yang sudah gak menginginkan lagi. Waktu kecil gue lebih suka ngejailin dan bikin nangis anak perempuan yang gue suka dibanding harus ngegombal cuma buat liat dia senyum. Dan yang terpenting, setelah menangis, walau kita musuhan, tapi tetep gak tahan buat gak saling
bicaraejek.
Tapi ya memang begitulah hidup. Kita harus move on. Ya meski memang gak semudah kedengerannya, minimal kita berusaha dulu. Banyak hal yang harus kita move-on-in dalam hidup. Move on dari masa kecil adalah satu contoh yang bisa gue kasih. Masak udah segitu banyaknya move on yang pernah dijalanin, move on dari dia aja gak bisa? Masak LDR aja kuat tapi move on-nya nggak?
Ini mungkin saatnya kamu untuk move on. Seperti yang kamu lakukan pada saat move on-move on yang terdahulu. Salah satu move on favorit gue adalah ketika dari keinginan egois untuk memendam sayang sendiri, move on ke membagi rasa itu kepada orang yang disayang dengan cara mengungkapkannya.
Kenapa harus berani? Karena cepat atau lambat, kenyataan akan menampar kamu untuk jadi berani.
Guru terbaik buat move on itu bernama kenyataan.

Harusnya Kamu Sudah Terbiasa Move On

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Selasa, 22 Juli 2014
Malam kemarin ketika gue sedang duduk duduk syahdu di sebuah kedai kopi langganan gue menikmati tiap seduhan kopi yang setia menemani.
Saat gue lagi ngecek-ngecek email yang masuk di YahooMessenger gue, ada yang nanya ke gue:
“Kak, coba dong diskripsikan tentang MANTAN ? Dan boleh gak kak kalo kita berteman dengan MANTAN ?
Iya. Yang nama nya mantan pasti berhubungan dengan masa lalu dan kenangan.
Mantan kekasih merupakan bagian dari masa lalu kita, dia dulu menemani kita dan ikut mewarnai hari-hari kita. Banyak hal pastinya yang udah kita lalui bersama dia, Suka duka kita bersama dia banyak. Maka dari itu, banyak hal yang tidak dapat kita lupakan.

Berteman dengan mantan, juga masih dianggap tabu bagi remaja era instan sekarang.
Gengsi yang ada, jangan memungkiri kata hati untuk ingin berteman dengan mantan.
Sebenarnya sah-sah saja mau beteman dengan mantan, daripada harus saling diam saat bertemu, lebih baik saling menyapa biarpun sudah tidak ada status pacaran lagi.
Toh dengan menyapa, itu dapat menambah tali silaturahmi kan ? Dalam ajaran agama gue sih ada suatu ayat yang bilang “jangan pernah memutus tali Silaturahmi”

Entah mengapa, gue memiliki satu prinsip, Dimana, di dalam prinsip gue banyak teman yang menentang keras prinsip gue. Entahlah gue tak memahami paham mereka yang menentang prinsip gue ini.

Prinsip untuk kembali kepada mantan.
“Kembali kepada mantan, itu sama saja kita mengulang kesalahan yang sama di masa lalu.”
Buat gue, orang yang mau mengulang kesalahan di masa lalu merupakan orang yang waktunya dibuang dengan SANGAT sia-sia. Eits masalalu dengan mantan enggak melulu kisah yang sedih sedih juga sih ada kisah yang bahagia-bahagianya juga sih di sampingnya. kisah pahit pasti berjalanan beriringan dengan kisah manisnyajuga sih.

Apa yang bisa kamu cari dari kesalahan yang sama? Pastinya Cuma ketemu rasa sakit yang sama.
Nah, sama-sama sakit hati. Buat gue mengulang? Ga ada guna nya mengulang.
 
Ada juga yang berprinsip kembali ke mantan, dan saling berjanji, takkan mengulang kejadian saat dulu. Yakin ga akan mengulang? Pikir-pikir lagi sebelum berjanji buat balikan deh. Walaupun semua berhak memiliki kesempatan kedua sih.
Kalo mantan ada yang ngajak balikan dengan tempo waktu sebentar sejak putus, itu berarti dia masih sayang atau dia benar-benar ingin mengulang hari-hari bersama denganmu lagi.
Tapi, kalo dia ngajak buat balikan lagi dalam tenggang waktu cukup lama sejak tanggal yang secara resmi sudah putus. Fix, dia ngerasa kesepian tanpa kamu, atau dia hanya ingin status pacaran, CUMA status nya saja, bukan dengan hubungan nya, atau bisa jadi dia takut di bully jomblo oleh teman-teman nya, makanya dia minta buat balikan.

Pemikiran GUE tentang balikan itu simple banget sih, ibaratnya kaya kita memungut sampah yang udah kita buang. Jijik kan? Nah, se singkat itu pemikiran gue terhadap mantan.

Mungkin ada dari kalian yang lebih seneng kembali ke mantan. Ya itu semua kembali ke pemikiran kalian masing-masing. Dengan balikan, itu juga bisa menyebabkan luka lama yang udah terkubur muncul lagi. Gak ingin mengulanginya kan?

Gitu aja sih pembicaraan tentang mantan malam ini, bukan maksud hati untu menyindir mantan siapa pun dan mantan mana pun. Seenggaknya, gue masih membuka hati untuk berteman, bukan berarti dari pertemanan itu muncul rasa untuk pacaran (lagi) sih *tiba tiba ada Raisa lagi nyanyi ‘ Terjebak Nostalgia’*

“Menjelek- jelekan MANTAN sama saja menjelek- jelekan Masa Lalu kita. Karena biar bagaimanapun MANTAN adalah cerminan Masa Lalukita.”

Mantan !!

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Sabtu, 12 Juli 2014

Dari semua topik pembuka obrolan ke cewek yang gue temui di mall, warkop, atau tempat nongkrong yang biasa gue kunjungi, topik favorit gue yang keempat adalah “Lu lebih suka cowok bertipe bad boy atau nice guy?”
 
Setelah ditanya seperti itu, hampir 90% dari para wanita menarik itu menjawab lebih suka BAD BOY!
“kenapa tuh emangnya suka sama yang tipe bad boy?” adalah lanjutan dari obrolan untuk merespon jawaban para cewek yang gue temui tadi. Jawabannya macam-macam, kalau ditulis di sini akan panjang. Bisa sih diuraikan satu persatu, tapi gue males. Jadi berkat rasa males, jawaban dari para kaum hawa yang berjibun itu bakal gue ringkas sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelasnya: BAD BOY  ITU ASIK!
(Baca: Lah, nyet, BAD BOY  kan bajingan?)
Iya, jadi begini.. anak monyet, bad boy emang bajingan, tapi... tapi, perilaku para pria bajingan dan kurang ajar itu menegaskan simbol kegilaan, kesempurnaan, kebebasan, kemegahan, “kedewasaan”, dan “kemapanan” yang sangat membuat para wanita penasaran. Hal-hal itu membangkitkan sensasi yang jarang banget bisa ditemui oleh pria yang sering berperilaku sopan, kalem, atau baik.
Pakar asmara dan masternya cinta-cintaan ala muda-mudi masa kini si Lex, pernah bilang, bidang studi psikologi dapat menganalisa mengenai pria brengsek nan bajingan ini dalam hal romansa pada kombinasi Big Five berikut ini: high extraversion (penuh energi, ekspresif di hadapan orang lain), low neuroticism (jarang mengalami emosi yang tidak menyenangkan), low conscientiousness (santai, berantakan, tidak disiplin), low agreeableness (mementingkan diri sendiri, cenderung bersaing ketimbang kerjasama), high openness to experience (suka tantangan, cepat bosan, pecandu tantangan baru). Dan P.K Jonason dari New Mexico University menemukan bahwa James Bond adalah figur yang paling tepat untuk menggambarkan seluruh sifat di atas.
Ada yang pernah liat filmnya James Bond pas adegan nelfon cewek sekedar cuma nanya “Kamuh dah mam lum?”

 "Apah? Kamu lum mam? Mam dong, biar nggak atit nanti."
Oke, nggak usah deh ya seberat itu penjelasannya. Kalau menurut kacamata para wanita yang gue ajak ngobrol, bad boy lebih menarik karena mereka itu ekspresif, nggak menye-menye (ini gue nggak tau arti pastinya, tapi... ya gitu lah), berani untuk nggak baik, Dan.. sulit di tebak adalah sifat bad boy yang di sukai oleh para wanita tadi. Itu membuat mereka terlihat lebih fun dibanding para nice guy yang pernah mereka temui.
Menurut gue, bad boy sendiri terdiri dari 3 jenis: pertama adalah mereka yang sudah menjadi bad boy secara natural (re: Dari sononya), kedua adalah mereka yang menjadi bad boy karena difasilitasi lengkap sejak kecil (tajir mampus. Yang orang tuanya kalo ngupil, upilnya jadi emas batangan), yang ketiga adalah mereka yang menjadi bad boy karena pengalaman pahit. Contoh nomer tiga adalah kasus yang sangat teramat menarik.
Orang yang menjadi bad boy karena pengalaman biasanya sudah pernah mengalami pengalaman yang menghasilkan air mata berdarah di dalam hubungan romansanya. Biasanya mereka dulunya adalah seorang nice guy yang disia-siakan oleh gebetannya. Disia-siakan karena dahulu mereka selalu ada ketika gebetannya butuh bahu saat sedang jatuh terpuruk dikarenakan lelaki yang disukainya kerap menyakitinya. Lalu dia  datang dengan memberi 1001 kata motivasi yang menghibur setelah gebetannya curhat dengan sejuta keluhan atas pria brengsek yang disukainya. Dengan usaha yang sangat maksimal, mereka membuat gebetannya yang sedang sedih menjadi tertawa. Tujuannya hanya satu: agar si gebetan mau melupakan pria brengsek yang disukainya dan melihat dia yang sudah bersusah payah menjadi yang terbaik buatnya dengan cara menunjukkan kebaikan yang pria brengsek itu tidak punya. Tetapi hasilnya malah terbalik menjadi 180 derajat, si gebetan malah makin nempel kepada si pria brengsek dan si nice guy itu cuma mendapat gelar teman baik di hati gebetannya dan nggak lebih dari itu. Rasa sakit yang ekstrim membuatnya dihadapkan pada dua pemikiran: 1. Gue harus lebih baik lagi? Atau.. 2. Gue nggak bisa begini terus? 
Dan para bad boy yang menjadi bad boy karena pengalaman adalah mereka yang belajar setelah menempuh sekian beratnya bagi kenyataannya untuk pindah jalur ke jalur nomer dua. Tidak puas menjadi raja di zona teman sang wanita pujaan, membuatnya mengambil langkah yang sangat ekstrim. Tentunya kalian pasti tau kalo kisah di atas adalah sebagian curhan hati yang terdalam. Hahaha.
Memang, susah rasanya untuk tidak bersikap layaknya ksatria putih berkuda tetapi hanya menjadi  friendzone ke pada wanita yang kita suka. Tapi, hei! Wanita hanya akan tambah suka bila diperlakukan baik oleh pria yang disukainya. Pernah disukai wanita yang tidak lu sukai sama sekali? Ya, mereka jadi tambah suka karena lu memperlakukan mereka seperti biasa atau mungkin layaknya bad boy, dan lu menjadi nice guy ketika berhadapan dengan wanita yang lu suka. Terbayang? 
Jangan sembarang menunjukkan minat lu ke tiap wanita yang lu suka, berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang wanita yang disuka meminta hal di luar akal, mampu hidup terpisah darinya, tidak harus mengikutinya ke manapun dia ingin pergi, dan berbagai hal lainnya.
Wanita tidak ingin pria yang hanya unggul dalam kebaikannya, apalagi hanya memiliki hal itu saja (re: kebaikan). Mereka ingin pria yang lengkap dengan keunggulan-keunggulan lainnya. Atau setidaknya pria yang mampu menunjukkan bahwa dia bisa lebih dari sekedar berbuat baik, sopan, dan menghargai wanita saja.
Jadi... gimana? Hahaha. 
Oh iya, gue belum menulis jawaban mereka kenapa tidak memilih nice guy. Karena nice guy itu mudah terbaca, membosankan, dan sifat baiknya yang sering diumbar sangat sayang untuk tidak menjadi sekedar teman. Jarang sekali ada atau bahkan tidak ada kejutan yang didapat.
Tentu para nice guy di luar sana memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki para bad boy. Tetapi  untuk menarik lawan jenis, sifat ini tidak begitu membantu. Lalu bagaimana? "Lu perlu berlatih mengekspresikan kombinasi Big Five di atas tanpa perlu menjadi bad boy yang bajingan, disfungsional, kekanak-kanakan, merusak dan menyakiti setiap wanita yang tertarik sama lu. Lalu kalo lu sudah siap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, lu harus bersedia mengurangi sedikit kesempurnaan lu dan menunjukkan sisi lemah. Karena fungsinya untuk diisi oleh sang kekasih biar saling melengkapi. Ijinkan dia berakar dan bertumbuh di dalam diri lu agar ia gak mudah terpikat oleh gelora pria-pria lain yang senantiasa menggodanya" kata si Lex sih gitu.
Kalo lu setuju dengan tulisan di atas, gue harap, lu berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneruskan strategi jadul yang lu lakukan selama bertahun-tahun ini sehingga membiarkan para wanita di luar sana menjadi bosan dan terpaksa karena tidak punya pilihan lain jatuh ke pelukan pria brengsek atau bahasa kasarnya pria bajingan.
Hidup adalah game, romansa adalah bagian darinya, dan seperti game pada umumnya, game romansa mempunyai strategi dan peraturan, jalani dengan benar dan lu bakal menangin game-nya!

Nice Guy or Bad Boy

Posted by Jefri Anugrah Yonda
Senin, 23 Juni 2014




Heyho! Apa kabar? Masih nunggu dia ngehubungin duluan padahal kamu yang kangen? Mau sampe kapan?… Apa? Oooh, kamu bukan siapa-siapanya dia. Pantes.
Anyway, kali ini gue pengen nulis tentang kegelisahan banyak orang nih. Mungkin termasuk kamu. Iya, tentang move on.
Move on kalo dibayangkan bisa semudah terbang, kalo dilakukan bisa semudah berjalan… ketika lumpuh.
Banyak banget orang yang gak bisa move on, ada juga yang gak mau move on, bahkan ada yang gak bisa dan gak mau move on. Yang baru-baru ini rame juga sekarang sering ada yang gak move on, padahal memiliki aja gak pernah. Aneh, kan?
Dari pernyataan gue tadi di atas, bisa ditarik kalo move on itu bukan cuma masalah bisa, atau mau. Tapi harus mau, dan harus bisa. Kalo salah satu aja nggak ada, bakalan sulit.
Setelah melakukan pengamatan pada pengalaman-pengalaman gue dan pengalaman-pengalaman orang lain, gue rasa ada beberapa faktor kenapa orang susah move on. Cekidot!
Sebenernya alasan “gak mau” dan “gak bisa” itu kurang masuk akal menurut gue, karena itu bukan alasan yang sesungguhnya. Selalu ada alasan-alasan lain di balik itu semua.
Ketemu Tiap Hari
Gimana bisa kamu move on dari orang yang tiap hari ketemu? Masih satu lingkungan? Pasti rasanya nyesek banget kamu putus dari orang itu, tapi liat dia setiap hari, entah karena satu kelas, satu organisasi, atau satu tongkrongan. Pokoknya nyesek deh.
Ini juga sering dijadiin ‘excuse’ buat gak move on. “Ah, ketemu tiap hari. Jadi, buat apa move on?”
Kadang herannya lagi, pas dia udah bisa move on duluan dengan punya pacar lagi, itu malah bikin kamu tambah gak bisa move on. Aneh.
Teman-Teman yang juga Temannya Dia
“Eh, lo udah putus sama dia?”
“Si [nama mantan] ke mana? Kok kalian gak pernah bareng lagi?”
Kalimat-kalimat kayak di atas dari temen-temen tuh yang bikin susah move on.
“Kok bisa? Kalian kan serasi banget?”
Apalagi kalo ditambah kalimat itu setelah tau kamu udah putus sama dia.
Penasaran
Masih ada yang belum terselesaikan. Sesederhana itu. Makanya ada orang yang gak pernah milikin dia aja susah move on dari dia, ya karena penasaran itu. Padahal kalo udah pernah milikin, mungkin malah jadi gampang move on.
Entah apa yang belum terselesaikan, intinya masih belum selesai. Sayangnya, ada yang menyalahgunakan rasa masih sayang orang lain untuk membalas dendam, misalnya dengan pura-pura gak bisa move on buat balikan terus bales semua perlakuan dia.
Faktor Eksternal yang Harusnya Gak Jadi Penghalang
Biar jelas, langsung gue beri contoh aja: gak dapet restu orang tua, beda agama, atau keduanya.
Sudah Terlalu Jauh, Sehingga Semuanya Terlalu Berharga
Sulit rasanya merelakan orang yang sudah terlalu banyak memberi kenangan, terlepas itu indah atau pahit.
Ini alasan yang paling sering dijadiin ‘pemakluman’ untuk orang buat gak move on.

Kalo kamu, gak bisa move on karena apa? Kayaknya yang gak bisa move on padahal memiliki aja gak pernah nih.
Yang mana pun penyebab kamu nggak move on, keputusannya ada di kamu sendiri, selama gak bikin menyesal. Karena ada loh orang yang menikmati ke-tidak-move-on-annya. So, tetap semangat!
Gue juga pernah bahas tentang move on di sini sebelumnya.

Kenapa Nggak Bisa Move On?

Posted by Jefri Anugrah Yonda

Hero

Jam ?

Copyright © 2012 Yonda. Diberdayakan oleh Blogger.

Who is Yonda

Recent Posts

Copyright © 2012 Yonda Story - YONDA - Powered by Blogger - Designed by JD